Rabu, 25 Februari 2015

Padungku

        Pada masyarakat petani (agraris) bentuk dan jenis seni yang tumbuh dan berkembang adalah bentuk dan jenis yang bernuansa komunal, kegotongroyongan, dan kebersamaan (Jazuli, 2014:60). Demikian pula simbol-simbol yang diekspresikan dalam karya seni akan senantiasa menyiratkan nilai-nilai kesuburan, solidaritas, dan religius. (Ramli Wahyu, 2012: 270) menyatakan bahwa dalam masyarakat agraris yang masih kuat, mitos memegang peran sangat besar dalam interaksi sosial. Mitos diperlukan untuk menjaga tradisi dan tindakan sosial yang bersifat altruistik( bertindak bersama-sama). Sejalan denag Ramdani, Curt Sachs (dalam Jazuli, 2014: 49) mengatakan bahwa manusia berbudaya purba(primitif) menari pada setiap peristiwa penting dalam setiap kehidupan mereka, seperti pada waktu panen (potong padi), kelahiran, inisiasi (kedewasaan), perkawinan, dan pesta kemenangan perang.
        Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki adat merayakan panen dengan cara masing-masing. Di daerah Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, ada yang namanya "padungku"atau syukuran panen padi. Padungku identik dengan nasi bambu (nasi yang dibakar dalam bambu) dan masyarakat luar sekitarnya mengenalnya dengan sebutan inuyu. JIka masa padungku tiba, maka seluruh warga desa sejak seminggu sebelum masa itu akan sibuk mempersiapkan diri mulai dari mencari dedaunan (iraeke), bambu, kayu bakar, mempersiapkan beras terbaik termasuk menghubungi sanak keluarga di wilayah lain untuk datang beramai-ramai.
         Malam sebelum hari padungku, seluruh desa akan dikepung asap pembakaran nasi bambu (nasi bulu) yakni makanan khas wajib ada yang menjadi olahan wajib selama padungku. Padungku menggambarkan pesta syukuran setelah panen raya yang bisa diadakan seluruh warga di desa, dimana warga sekitar bahkan dari desa lain bisa berkunjung (tanpa di undang hehehehe) dan memenuhi rumah-rumah untuk bersilaturahim ,mencicipi makanan dan sekaligus reuni. Warga (tamu) boleh membawa makanan olahan yang sudah disediakan (lupi, inuyu, dll) sebagai oleh-oleh. 
        Hampir semua rumah tanpa mengenal status sosial ( pejabat, kaya, miskin (maaf) bahkan yang tidak memilik sawahpun atau bukan petani akan mempersiapkan/menyediakan nasi bambu (inuyu). Padungku juga merupakan media integrasi sosial dimana semua orang berkumpul (silaturahim) tanpa mengenal ras, suku, agama dan status sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar